Menu
 

Kendaraan-kendaraan (mobil dan sepedamotor) yang diproduksi sejak beberapa tahun ke belakang sebenarnya memiliki mesin dengan spesifikasi berstandar emisi Euro 3. Namun mesin-mesin itu tidak bekerja semestinya akibat masih banyak pemilik yang memberinya bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Premium.
Dikatakan oleh Tri Yuswijayanto dari Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), penggunaan BBM Premium untuk mesin berstandar Euro 3 berakibat merusak kinerja mesin, menjadi lebih boros dan menghasilkan tingkat emisi lebih tinggi dari standar. Hal itu disebabkan karena proses oksidasi/pembakaran BBM Premium yang tidak sempurna di dalam mesin Euro 3.
“Akibat proses oksidasi tidak sempurna, tidak sedikit BBM mengendap di dalam mesin dan hanya menjadi sampah. Sehingga konsumsi BBM menjadi lebih boros dan emisi pun meningkat karena BBM-nya tidak sesuai dengan standar mesin,” jelas Tri Yuswijayanto, di sela-sela pelepasan Road Test Evalube 2W 6000 km di Bandung. Mesin berstandar Euro 3 dianjurkan untuk memakai BBM beroktan 91 ke atas untuk menghasilkan performa maksimal dan menjaga emisi tetap rendah. Namun, lagi-lagi dengan ‘menyalahkan’ kemampuan dompet, masyarakat bersikeras mengisi kendaraannya dengan BBM Premium. [dp/Whr]



View the original article here

Posting Komentar

 
Top